Ditulis oleh:
Sanudin,S.Pd
الحمد لله أحمده وسبحانه وتعالى على نعمه الغزار, أشكره على قسمه المدرار, . أشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له. واشهد ان سيدنا محمدا عبده و رسوله النبي المختار. اللهم صل على سيدنا محمد وعلى أله الأطهار وأصحابه الأخيار وسلم تسليما كثيرا. أما بعد فياأيها الناس اتقوالله حق تقاته ولاتموتن الا وأنتم مسلمون
Saudara-saudaraku kaum muslimin jamaah jumat rahimakimullah!
Marilah kita bertaqwa kepada Allah dan mudah2an akhir dari kehidupan kita kita kembali kepada Allah dalam keadaan muslim.
Dalam khutbah kali ini kami ingin menyampaikan satu hadits Rasulullah saw yang jika diperhatikan secara seksama memberikan pelajaran bagi kita ummat Islam agar tidak terjerumus dalam kerugian. Hadits itu berbunyi:
رُوِىَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: مَنْ أَصْبَحَ وَهُوَ يَشْكُو ضَيْقَ الْمَعَاشِ فَكَاَنَّمَا يَشْكُو رَبَّهُ وَمَنْ أَصْبَحَ لِأُمُوْرِ الدُّنْيَا حَزِيْنًا فَقَدْ أَصْبَحَ سَاخَطًا عَلىَ اللهِ وَمَنْ تَوَاضَعَ لِغَنِيٍّ لِغِناَهُ فَقَدْ ذَهَبَ ثُلُثَا دِيْنِهِ
Diriwayatkan dari Nabi saw sesungguhnya beliau pernah bersabda: barang siapa bangun di pagi hari kemudian mengadukan kesulitannya kepada sesama (mahkluk/manusia), maka seolah-olah ia mengadukan tuhannya (karena tidak rela dengan apa yang diterimanya). Dan barang siapa merasa sedih dengan kondisi duniawinya di waktu pagi, maka dia pagi-pagi telah membenci Allah. Dan barang siapa merendahkan dirinya di hadapan orang kaya karena kekayaannya sungguh telah lenyap dua pertiga agamanya.
Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah
itulah tiga hal yang seharusnya dihindarkan oleh setiap muslim. Mengingat ketiga hal tersebut memiliki dampak buruk kepada hubungan manusia dengan Allah swt.
Pertama, hindarkanlah kebiasaan mengeluh kepada sesama atas keadaan yang kita alami. Karena hal itu sama artinya dengan menggugat menyalahi taqdir Allah swt yang ditetapkan bagi seorang hamba. Mengeluh dan meratapi nasib yang diderita sama artinya dengan merasa tidak puas akan pemberian Allah swt. Ketidakpuasan itu adalah manusiawi, tetapi hendaknya langsung saja diratapkan dalam doa dan munajat kepada-Nya janganlah diadukan kepada sesama nanusia. Sebagaimana do’a Nabi Musa yang dipanjatkan kepada Allah swt tatkala beliau melewati lautan berama kaumnya:
اَلَّلهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ وَاِلَيْكَ الْمُشْتَكَى وَاَنْتَ الْمُسْتَعَانُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللهِ اْلعَلِيِّ الْعَظِيْمِ
Ya Allah segala puji bagi-Mu. Kepada Engkaulah aku mengadu dan hanya Engkau yang bisa memberi pertolongan. Tiada daya dan upaya, serta tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung
Kedua, hindarkanlah perasaan sedih dengan kondisi yang ada dipagi hari. Karena hal itu akan menimbulkan rasa tidak ridha dengan apa yang diberikan Allah kepada kita.
Kedua larangan ini adalah bentuk bukti ketdaksabaran seorang hamba akan nasibnya. Sesungguhnya orang yang sabar tidak akan menggerutu apalagi mengadukan nasibnya kepada sesama.
Kedua hal di atas pada hakikatnya menunjukkan betapa seorang hamba tidak lagi bersabar. Karena sejatinya sabar adalah Tajarru’ul murarati bighairi ta’bitsin (tahan menelan barang pahit tanpa mengeluh).Oleh karena itu, ketika di pagi hari kita telah menggerutu dan mengeluh akan keadaan nasib kita, berarti kita bukan lagi orang yang sabar. Apalagi hingga mengadukan nasib kita kepada sesama manusia dengan mengeluhkan keadaan yang kita alami.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Ketiga, Barangsiapa merendahkan dirinya di hadapan orang kaya karena kekayaannya sungguh telah lenyap sepertiga agamanya (kata Nabi) Poin ketiga dan terkahir ini dapat dimaknai sebagai larangan Rasulullah saw akan adanya perasaan thama’ dan pengharapan yang tinggi kepada manusia atau orang kaya( dlm arti bergantung kepada manusia). Karena pengharapan lebih itu hanya boleh disandarkan kepada Allah swt saja. Sedangan pada sisi lain juga menunjukkan larangan pengagungan berlebihan kepada sesama manusia, apalagi pengagungan itu dilatar belakangi karena adanya faktor harta, sungguh hal itu pasti akan berimbas pada penghinaan ilmu dan kebaikan. Karena dikhawatirkan lambat laun pemikiran kita malah akan di giring pada konsep faham materialistik yang cenderung mengukur segala urusan hanya berdasarkan harta sedikit sedikit uang, uang dan uang belaka. dampaknya negatifnya adalah kalau tak kaya tak di hormati kalau tak kaya tak dianggap baik. sementara si miskin yang telah berbuat baik bagaimanapun besar kebaikannya cenderung tak dianggap dan justru malah dilupakan. Faham ini sangat berbahaya sebab akan menghancurkan persatuan dan kesatuan ummat Islam dari dalam.
Jama’ah Jum’ah yang Dirahmati Allah
Jika demikian adanya berbagai larangan, lantas apakah hal yang diperbolehkan untuk kita dalam menilai lebih terhadap sesama manusia? Islam hanya memberikan dua faktor kepada umatnya yang dengan itu bisa saling menghargai, saling menghormati dan saling memuliakan
pertama: karena ilmu, dan yang kedua karena kebaikan. Jadi kalaupun sekiranya kita memang harus kagum kepada orang kaya maka kekaguman kita haruslah karena kebaikannya bukan karena hartanya selebihnya tidak ada kalau kita kagum dan hormat kepada seorang alim al allamah bukan karena penampilannya tetapi karena ilmunya. Jadi siapapun yang memuliakan manusia dengan berbagai alasan selain dua alasan diatas maka sesungguhnya orang itu ibarat seseorang yang tanpa sadar telah terjerembab kepada lubang kecil yang jika dia biarkan akan terus menerus melebar dan akan menenggelamkan dirinya pada lumpur kethamakan dan ketergantungan kepada sesama. padahal Allah yang memberikan segala fasilitas kehidupan yang kita rasakan selama ini termasuk juga yang diberikan kepada orang2 kaya tersebut.
Sebagai akhir kalam, pada khutbah ini khatib ingin menyampaikan pesan Sulthonul Auliya Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani bahwabeliau berkata:
لاَبُدَّ لِكُلِّ مُؤْمِنٍ فِى سَائِرِ اَحْوَالِهِ مِنْ ثَلَاثَةِ أَشْيَاء: أَمْرٌ يَمْتَثِلُهُ وَنَهْيٌ يَجْتَنِبُهُ وَقَدْرٌ يَرْضَى بِهِ
"Hendaknya setiap muslim harus selalu berada dalam tiga keadaan yaitu, 1.melaksanakan perintah Allah, 2.Menjauhi larangan Allah dan 3. Rela akan qadha dan qadar (ketetapan) taqdir Allah SWT. SEMOGA BERMANFAAT
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُمْ ِبمَا ِفيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذكْر ِالْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ
KHUTBAH II
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
مَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ.

Komentar
Posting Komentar