Seringkali orang menafsirkan rezeki itu sebagai hal yang hanya berupa materi entah itu berupa uang dan harta benda lainnya namun jikalau ditinjau secara lebih luas secara makna majazi maka umur yang panjang juga adalah rezeki, selamat dari bahaya adalah rezeki dan mendapat suatu kebaikan adalah rezeki sebab logikanya bagaimana mungkin seseorang bisa menikmati uang dan harta bendanya yang banyak kalau ternyata umurnya pendek, bagaimana mungkin dia bisa makan seperti biasa kalau kalau meninggal karena musibah tertentu, maka jangan heran rezeki seringkali dikaitkan dengan umur sebab kalau sudah habis umur seseorang maka habis pula rezekinya.
Adapun disinipenulis hanya memfokuskan tentang rejeki dalam lingkup kategori materi saja untuk menghemat pembahasan. Sejatinya, rezeki itu ada tiga macam.
1. Rezeki yang dicari
2. Rezeki yang dijemput
3. Rezeki yang tidak disangka-sangka.
Seandainya kita paham mengenai ketiga rezeki di atas, kita tidak akan khawatir mengenai urusan rezeki, urusan kekayaan, dan urusan keuangan.
Rezeki yang dicari
Rezeki yang dicari adalah adalah rezeki yang memang harus dicari sementara kita tidak tahu dimana posisi rezeki itu berada. Kita diharuskan mencarinya kapan pun dan dimana pun.
Seorang supir angkot, apakah ia tahu bahwa di pinggir jalan yang akan ia lewati akan ada calon penumpang. Ia hanya menduga sambil mencari. Seorang tukang bakso, apakah ia tahu bahwa barang dagangannya akan laku habis hari ini. Yang ia lakukan adalah mencari pelanggan sampai dagangannya habis. Seorang sales motor, apakah ia tahu bahwa hari ini akan terjadi dealing atau ada calon customer yang mau membeli motornya. Itulah contoh rezeki yang dicari.
Rezeki yang dijemput
Seseorang yang rajin ibadah, rajin berdoa, rajin bersedekah, rajin shalat dhuha, tidak perlu khawatir mengenai 'jatah' rezeki yang Allah SWT berikan. Kita hanya bertugas untuk menjemputnya dengan ikhtiar.
Apa bedanya rezeki yang dicari dengan rezeki yang dijemput?
Rezeki yang dijemput adalah rezeki yang kita tahu dimana posisi rezeki itu berada. Atau kita tahu kapan rezeki itu datang. Walaupun ini hanya sebatas pengetahuan kita. Hanya sebatas dugaan. Sepenuhnya hanyalah Allah Yang Tahu.
Contohnya?
Seorang tukang bakso mendapatkan order dari seseorang yang akan merayakan pernikahan.
Seorang sales motor mendapatkan order dari instansi pemerintah yang akan membeli motor baru untuk inventaris pegawainya.
Apa yang harus mereka lakukan? Ya tinggal menjemput saja rezeki itu, peluang itu, kesempatan itu, orderan itu. Bukankah menjemput itu lebih baik daripada mencari.
Rezeki yang tidak disangka-sangka
Ini adalah rezeki yang tidak diduga kedatangannya. Kita tidak tahu, kita tidak menduga. Tahu-tahu, rezeki itu datang dengan sendirinya karena Rahmat Allah SWT.

Komentar
Posting Komentar