Langsung ke konten utama

Kualitas Lebih Utama daripada Kuantitas

Allah SWT berfirman: 

"Bukanlah harta kekayaanmu, dan bukan pula anak keturunanmu itu yang akan mendekatkan kamu ke sisi Kami (Tuhan) sedekat-dekatnya, kecuali orang yang beriman dan beramal saleh. Maka mereka ini, ada bagi mereka pahala berlipat ganda atas apa yang mereka amalkan, dan mereka akan hidup dalam ruang-ruang (di surga) dengan aman sentosa."

 (QS. Saba’ [34]: 37).


Ketika Al-Qur’an mengontraskan antara banyaknya harta dan keturunan dengan iman dan amal saleh, terungkap pesan bahwa sesungguhnya yang kuantitatif, yakni berupa kekayaan dan keluarga, tidak lebih utama daripada kualitas pribadi seorang hamba yang digambarkan dengan kesadaran berketuhanan dan perbuatan baik (amal shalih). Kitab Suci Alqur'an seolah sedang mengajak kita untuk tidak hanya mempedulikan diri sendiri melainkan juga menebar kemanfaatan kepada yang lain.

Al-Qur’an juga sering menggambarkan dengan nada miring sikap hidup yang membanggakan harta kekayaan, tapi juga tak pernah memuji kemiskinan dan pola keluarga kecil yang sedikit atau tanpa keturunan. Islam memandang segenap perkara duniawi secara proporsional: menghalalkannya sebagai sarana untuk meraih kebahagiaan hakiki, yakni tercapainnya kesadaran penuh akan hadirnya Allah dalam setiap kesibukan kita dan kebermanfaatan kita untuk lingkungan sekitar.

Suatu contoh yang bisa kita ambil dari salah satu perkataan sang proklomator seperti Bung Karno, " Berikan padaku sepuluh orang pemuda maka akan ku guncang dunia."  sekilas kita bisa menangkap dari ungkapan beliau ini mengenai hal yang terkait dengan kualitas bukan semata-mata faktor kuantitas maka kita akan bisa mengerti bahwa kualitas itu jauh lebih diutamakan.

Ketika Khalifah Umar Ibn Khattab melakukan thawaf di Masjidil Haram, tiba-tiba beliau mendengar seorang laki-laki Arab yang sedang berdoa, “Ya Allah, jadikanlah aku golongan yang sedikit (minoritas).” Umar radhiyallahu ‘anhu terkejut mendengar doa tersebut dan berkata kepada ajudannya, “Bawa laki-laki itu ke hadapanku.” Maka laki-laki Arab itu dihadirkan di hadapan Umar, lalu Umar berkata, “Wahai saudaraku, sungguh doamu tadi belum pernah aku dengar sebelumnya. Apa makna doamu itu?” Laki-laki Arab itu berkata, “Orang sekaliber Tuan pasti hafal (maksud) doa tersebut, wahai Amirul Mukminin.” Pernyataan tersebut justru menambah keheranan Umar, lalu bertanya kembali dengan heran, “Bagaimana mungkin saya menghafalnya?” Laki-laki itu berkata, “Bukankah Tuan membaca Firman Allah subhanahu wata’ala dalam kitab-Nya, “Dan sangat sedikit hamba-Ku yang pandai bersyukur (QS Saba’ 31 : 34 ). Saya memohon kepada Allah supaya saya dijadikannya orang yang bersyukur.” Kemudian Umar berkata, “Saudara benar, saudara boleh kembali melanjutkan berdo'a. Saudara dan orang-orang lebih tahu daripada Umar (dalam beberapa hal).”

Dari kutipan kisah ini kita bisa menarik suatu kesimpulan bahwa penilaian Allah dalam Alquran Surat Saba' merujuk pada kwalitas seorang hamba walaupun hamba-hamba itu tidak tergolong banyak, sedikit tetapi berkualitas, disi lain Khalifah umar juga mengakui kualitas sebagian orang kadang lebih baik dari kebanyakan orang termasuk dengan rendah hati mengakui bahwa sebagian orang lebih tahu tentang beberapa hal daripada diri beliau sendiri. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Khutbah Jum'at | Islam Mengangkat Harkat & Martabat Kaum Wanita

 الحمد لله الذى أعد للمؤمنين والمؤمنات جنات  تجرى من تحتها الانهار أحمده سبحان الله تعالى وأشكره على نعمه الغزار, وأشهد أن لااله الا الله وحده لاشريك له الملك العزيز الغفار, وأشهد أن سيدنا ونبينا محمدا عبده ورسوله المختار, اللهم صل وسلم وبارك على عبدك ورسولك محمد نور الانوار وسر الاسرار وعلى اله الأبرار واصحابه الاخيار ومن تبعهم باحسان الى يوم القرار. اما بعد.فيامعاشر المسلمين رحمكم الله أوصيكم ونفسى بتقوى الله وقد فاز المتقون واحثكم على طاعته لعلكم تفلحون Ma'asyiaral Muslimin Rahimakumullah Marilah kita bersama-sama meningkatkan ketaqwaan kepada Allah swt. diantara bukti ketaqwaan itu adalah meniti ridha orang tua. Terutama ibu sebagai wanita yang telah bersusah payah melahirkan dan membesarkan kita. bukankah ridha Allah swt tergantung pada ridhanya? Dengan kata lain menghormati orang tua merupakan salah satu artikulasi ketaqwaan seorang hamba kepada-Nya. Ma'asyiaral Muslimin Rahimakumullah Surga di bawah telapak kaki ibu, al-jannatu tahta aqdamil ummahati. Begitulah Rasulul...

Doa Tahlil atau Doa Arwah

Ada berbagai macam bentuk susunan do'a arwah. Namun penulis ingin menuliskan di sini cuma satu bentuk saja agar mudah di hafal dan di amalkan ketika di butuhkan pada acara tahlilan maupun pada saat tertentu di saat kita ingin mendo'akan keluarga, kerabat dan sahabat kita yang telah meninggal dunia. Doa tahlil atau doa arwah ini berisi permohonan agar Allah menerima semua bacaan Al-Qur’an dan zikir tahlil sebagai tambahan amal kebaikan bagi ruh/arwah orang yang meninggal yang didoakan. Doa ini juga terdiri atas permohonan ampunan dan rahmat-Nya untuk arwah ahli kubur. Inilah do'anya : اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنْ الرَّحِيْمِ. الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حَمْدَ الشَّاكِرِيْنَ حَمْدَ النَّاعِمِيْنَ حَمْدًا يُّوَافِى نِعَمَهُ وَيُكَافِىءُ مَزِيْدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ. سُبْحَانَكَ لَا نُحْصِى ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ، فَلَكَ ال...

Kisah Sahabat Nabi SAW | Sang Raja Di Surga

Di dalam suatu majelis pengajaran, tiba-tiba Rasulullah SAW bersabda, "Besok pagi akan ada seorang ahli surga yang bersembahyang bersama kamu!!" Abu Hurairah, yang meriwayatkan hadits ini, berkata dalam hati,"Aku berharap, akulah yang ditunjuk oleh beliau….!" Waktu subuh esok harinya, Abu Hurairah shalat di belakang beliau.  Ia tetap tinggal di tempatnya ketika beberapa orang pamit untuk pulang. Tiba-tiba ada seorang hamba/budak hitam berpakaian compang-camping datang mendekat dan menjabat tangan Rasulullah SAW, ia berkata, "Ya Nabiyallah, doakanlah aku semoga aku mati syahid!!" Rasulullah SAW memenuhi permintaan orang tersebut.  Sementara beliau berdoa, tercium bau kesturi dari tubuhnya yang kelihatan kumuh dan kotor.Setelah ora ng itu berlalu, Abu Hurairah bertanya, "Apakah  orang itu (yang Engkau maksud), Ya Rasulullah?" "Benar," Kata Nabi SAW, "Ia hamba sahaya dari Bani Fulan…" "Mengapa tidak engkau beli dan engkau me...