Padahal adil sendiri adalah barang murah, adil tidak perlu dibayar mahal seperti halnya kita membayar emas, perak, permata, berliandll. Kenapa demikian? Karena potensi adil selalu terkandung dalam diri tiap insan sebagai pengejawantahan sifat Allah swt yaitu ‘al-‘adlu' (Maha Adil). Adil adalah kekayaan alami yang terkandung dalam diri setiap individu yang hanya memerlukan modal kemauan dan keberanian saja untuk menghadirkan dan menerapkannnya dalam kehidupan.
Dengan demikian keadilan menjadi salah satu basic structure yang harus ada di Indonesia. Dengan kata lain Keadilan merupakan masalah dasar yang keberadaannya sudah merupakan barang pasti yang tidak bisa diganti dengan yang lain, dan ini bisa di sebut sebagai salah satu syarat apabila bangsa ini ingin terus berkembang dan tetap lestari. Bukankah demikian peringatan Allah kepada Nabi Daud yang tertera dalam surat as-shad ayat 26:
يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ.
"Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan."
Sudah jelas kiranya janji Allah dalam ayat tersebut. Bahwa keadilan adalah syarat mutlak yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, karena keadilanlah yang akan menentukan arah keberlanjutan roda kehidupan sebuah bangsa. Demikian pentingnya keadilan hingga ada sebuah cerita tentang seorang darwis yang dimintai pendapat tentang pemimpin yang zhalim.
Sa'di bercerita; Alkisah, Seorang raja yang zalim berkenan memanggil seorang darwis ke istananya untuk memberi nasihat. Ketika sufi itu datang, Raja Zalim berkata, "Berikan aku nasihat. Amal apa yang paling utama untuk aku lakukan sebagai bekalku ke akhirat nanti? Sang darwis menjawab, "Amal terbaik untuk baginda adalah tidur." Raja itu keheranan, "Mengapa?" "Karena ketika tidur," jawab sufi itu, "baginda bisa berhenti menzalimi rakyat. Ketika baginda tidur, rakyat dapat beristirahat dari kezaliman."
Namun manusia adalah insan yang sering lalai dan mudah tergoda dengan berbgai bujuk rayu setan yang menyesatkan. Karena hampir dalam setiap langkah kehidupan ini kezhaliman hadir menggantikan posisi keadilan. Begitulah yang terjadi sehingga Rasulullah saw pernah bersabda:
سيأتى زمان علي امتي سلاطينهم كالاسد ووزراءهم كالذئب وقضئهم كالكلب وسائر الناس كالاغنام فكيف يعيش الغنام من الاسد والذئب والكلب ؟
Akan tiba satu waktu kepada umatku penguasanya seperti singa, para menterinya seperti serigala, dan hakim-hakimnya seperti anjing. Sementara itu umat kebanyakan bagaikan kambing. Bagaimana bisa kambing hidup diantara singa, serigala dan anjing?"
Apakah maksud penguasa seperti singa dalam konteks hadits ini? apakah pemimpin harus pemberani maka itu memang harus tapi dalam konteks ini singa ditamsilkan dalam hadits bukan dalam hal keberanian, tapi dalam hal kerakusannya. Bila kita perhatikan, singa selalu saja memburu makanan demi kepentingan pribadi dan golongannya. Sementara serigala terkenal dengan sifat culas, gesit, dan licik, ia bisa menggunakan berbagai cara demi menghasilkan buruan walaupun dengan jalan tidak ksatria. Adapun anjing yang suka menjilat pandai sekali menyembunyikan kebuasannya, asal dapat makanan maka bisa saja musuh menjadi majikan dan majikannya menjadi musuh dibalik kejinakan dan kegalakan yang dimilikinya. Begitulah Rasulullah saw menerang keberadaan umatnya pada zaman yang beliau sebutkan. Apakah masa atau zaman yang dimaksud oleh Beliau tersebut kini telah tiba? seperti perkataan umum saudara-saudara kita sesama muslim di Pulau Lombok : 'Allah ta'ala bae siq paling nenawang' dengan kata lain, Wallahu a’lamu bisshawab.

Komentar
Posting Komentar