Jauh Sebelum Mewabahnya Virus Corona, China Sudah Merancang Matahari Buatan. Tidakkah ini bermaksud menyaingi Tuhan?
Terjadinya fenomena virus corona (covid-19) yang menggemparkan dunia merupakan suatu bentuk nyata bagi kita ketika Allah menampilkan kebesaranNya. Bayangkan, hanya bermula dengan sebuah virus yang tak terlihat oleh mata telanjang tapi mampu menjadi pembunuh yang begitu ganas dan meresahkan dunia. Virus ini mulai merebak di daerah China yang di kenal dengan Negeri Tirai Bambu. Dimana China merupakan salah satu negara berkembang yang yang perkembangannya melaju cepat dan ingin menyaingi Amerika Serikat dalam semua bidang. Kemajuan yang yang diraih China ternyata menjadikannya semakin merasa di atas angin serta bersikap arogan sampai- sampai akhir-ini China kini di kabarkan China sedang mengembangkan proyek pembangunan matahari buatan yang di perkirakan proyek tersebut akan segera tuntas dan segera di operasikan menjelang tahun ini. Sebuah media online menyatakan bahwa tindakan China itu seakan ingin menyaingi Tuhan, benarkah demikian?
“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.”
(Qs. al-Anfaal [8]: 25).
Seorang Mahasiswa Al Azhar menulis di situs hidayatullah.com bahwa Mantan Sekretaris Negara AS Henry Kissinger baru-baru ini mengatakan, China telah ‘menang’ atas Amerika.
“Fantasi AS untuk mendominasi China sangat tidak realistis.” China telah menang. Oleh karena itu, Amerika yang dulunya memiliki keunikan dan kekuatan terbesar, sudah harus menerima kenyataan dan terbiasa dengan fakta bahwa mereka sekarang memiliki pesaing dengan kekuatan yang mungkin lebih dominan. Persaingan itu abadi,” kata Henry Kisinger.
Berbagai perusahaan milik negara China mengoperasikan setidaknya 29 pelabuhan di 15 negara. Bahkan melalui kekuatan lunak (soft power), China bahkan mempengaruhi dunia Arab dan Timur Tengah.
Seperti halnya Paman Sam, negara ini dengan angkuh mengabaikan tekanan dunia atas penindasannya pada Muslim Uighur.
Tapi yang mengejutkan, tiba-tiba sebuah virus, turun di Wuhan, merebak dengan cepat membuat orang-orang berjatuhan. China mengunci puluhan kota, transportasi dihentikan, bandara ditutup. Ribuan orang antre di rumah sakit berharap mendapatkan obat. Sementara video yang beredar, orang-orang berjatuhan di jalanan, yang oleh media Barat wilayah itu bak ‘kota zombie’.
Hanya sebuah virus, yang bentuknya hanya bisa ditilik menggunakan mikroskop elektron yang lebih canggih daripada mikroskop cahaya. Saking kecilnya. Tapi bayangkan, virus bisa meneror negara besar yang kini seolah bertekuk lutut di muka dunia.
Wabah virus dan kedigdayaan China ini, mengingatkan kita tentang sejarah Kaum Firaun sang pembangkang, dan Abrahah Sang Pasukan Bergajah.
Kurang membangkang apa lagi Kaum Firaun kepada Nabi Musa. Mereka yang di akhir ocehannya mengatakan, “Bukti apapun yang kau bawa untuk menyihir kami, kami tidak akan pernah beriman kepadamu.” (QS: Al-A’raf : 132)
Kaum ini mendapat serangan hanya dari belalang dan kutu (QS Al-A’raf : 133), setelah sebelumnya memohon pertolongan dari adzab angin topan kepada Nabi Musa, lalu membangkang lagi.
Mereka akhirnya meminta doa Nabi Musa kembali, lalu membangkang yang kesekian kali, hingga akhirnya binasa oleh gulungan ombak laut merah. (Tafsir At-Thabari)
Pasukan Abrahah tidak kalah tragis. Mereka sengaja membariskan gajah sebagai simbol kekuatan. Tapi sebelum menginjak ka’bah sebagai sasarannya, mereka lumat hanya oleh pasukan burung. (QS. Al-Fiil : 1-5)
Belalang, kutu, burung, hewan-hewan adalah peringatan dari Allah untuk kaum berikutnya yang berani jumawa.
Yang dipakai di dalam Al-Qur’an memang nama belalang, kutu, dan burung. Tapi setelah manusia memukan virus, Allah Maha Berkuasa untuk memakai makhluk-Nya yang lebih kecil sebagai gambaran betapa hebatnya dan kuatnya adzab Allah, sementara sekaligus menunjukkan betapa lemahnya manusia.
Sekarang, di depan mata dipertonkan pada kita semua, China –yang raksasa Asia paling ditakuti—itu galau hanya karena sebuah hewan kecil ciptaan Allah. Mungkin ini pelajaran bagi manusia, bahwa senagian orang kadang merasa perlu bukti nyata akan adanya Allah maka lewat makhluk kecil ciptaanNya berupa virus corona menggugah hati merekauntuk percaya bahwa Allah itu ada dan adzab atau siksaan dunia akhirat itu ada dan terbukti sebab secanggih apapun kemampuan teknologi manusia maka tak akan pernah bisa menciptakan makhluk bernyawa sekecil virus dan mungkin yang di bisa oleh manusia hanya mengembangkan dan memperbanyaknya istilah mungkin peternakan virus. Jadi tak ada lagi alasan meremehkan Allah dan merasa aman dari bala tentara-Nya.
“Fantasi AS untuk mendominasi China sangat tidak realistis.” China telah menang. Oleh karena itu, Amerika yang dulunya memiliki keunikan dan kekuatan terbesar, sudah harus menerima kenyataan dan terbiasa dengan fakta bahwa mereka sekarang memiliki pesaing dengan kekuatan yang mungkin lebih dominan. Persaingan itu abadi,” kata Henry Kisinger.
Berbagai perusahaan milik negara China mengoperasikan setidaknya 29 pelabuhan di 15 negara. Bahkan melalui kekuatan lunak (soft power), China bahkan mempengaruhi dunia Arab dan Timur Tengah.
Seperti halnya Paman Sam, negara ini dengan angkuh mengabaikan tekanan dunia atas penindasannya pada Muslim Uighur.
Tapi yang mengejutkan, tiba-tiba sebuah virus, turun di Wuhan, merebak dengan cepat membuat orang-orang berjatuhan. China mengunci puluhan kota, transportasi dihentikan, bandara ditutup. Ribuan orang antre di rumah sakit berharap mendapatkan obat. Sementara video yang beredar, orang-orang berjatuhan di jalanan, yang oleh media Barat wilayah itu bak ‘kota zombie’.
Hanya sebuah virus, yang bentuknya hanya bisa ditilik menggunakan mikroskop elektron yang lebih canggih daripada mikroskop cahaya. Saking kecilnya. Tapi bayangkan, virus bisa meneror negara besar yang kini seolah bertekuk lutut di muka dunia.
Wabah virus dan kedigdayaan China ini, mengingatkan kita tentang sejarah Kaum Firaun sang pembangkang, dan Abrahah Sang Pasukan Bergajah.
Kurang membangkang apa lagi Kaum Firaun kepada Nabi Musa. Mereka yang di akhir ocehannya mengatakan, “Bukti apapun yang kau bawa untuk menyihir kami, kami tidak akan pernah beriman kepadamu.” (QS: Al-A’raf : 132)
Kaum ini mendapat serangan hanya dari belalang dan kutu (QS Al-A’raf : 133), setelah sebelumnya memohon pertolongan dari adzab angin topan kepada Nabi Musa, lalu membangkang lagi.
Mereka akhirnya meminta doa Nabi Musa kembali, lalu membangkang yang kesekian kali, hingga akhirnya binasa oleh gulungan ombak laut merah. (Tafsir At-Thabari)
Pasukan Abrahah tidak kalah tragis. Mereka sengaja membariskan gajah sebagai simbol kekuatan. Tapi sebelum menginjak ka’bah sebagai sasarannya, mereka lumat hanya oleh pasukan burung. (QS. Al-Fiil : 1-5)
Belalang, kutu, burung, hewan-hewan adalah peringatan dari Allah untuk kaum berikutnya yang berani jumawa.
Yang dipakai di dalam Al-Qur’an memang nama belalang, kutu, dan burung. Tapi setelah manusia memukan virus, Allah Maha Berkuasa untuk memakai makhluk-Nya yang lebih kecil sebagai gambaran betapa hebatnya dan kuatnya adzab Allah, sementara sekaligus menunjukkan betapa lemahnya manusia.
Sekarang, di depan mata dipertonkan pada kita semua, China –yang raksasa Asia paling ditakuti—itu galau hanya karena sebuah hewan kecil ciptaan Allah. Mungkin ini pelajaran bagi manusia, bahwa senagian orang kadang merasa perlu bukti nyata akan adanya Allah maka lewat makhluk kecil ciptaanNya berupa virus corona menggugah hati merekauntuk percaya bahwa Allah itu ada dan adzab atau siksaan dunia akhirat itu ada dan terbukti sebab secanggih apapun kemampuan teknologi manusia maka tak akan pernah bisa menciptakan makhluk bernyawa sekecil virus dan mungkin yang di bisa oleh manusia hanya mengembangkan dan memperbanyaknya istilah mungkin peternakan virus. Jadi tak ada lagi alasan meremehkan Allah dan merasa aman dari bala tentara-Nya.




Komentar
Posting Komentar