Langsung ke konten utama

Menyikapi Perbedaan Pendapat tentang Fatwa MUI Terkait Virus Corona


OPINI





Terjadinya perbedaan pendapat diantara ummat Islam mengenai fatwa MUI tentang peniadaan shalat jumat gara-gara kekhawatiran akan terjangkit virus corona menuai pro kontra, sebagian masayarakat muslim tak sedikit yang nekat tetap melaksanakannya karena berpendapat lebih baik tetap sholat jum’at apapun resikonya, malah ada sebagian yang berpendapat bahwa siapa saja yang tetap datang ke masjid untuk melaksanakan sholat berjamaah dan dengan sebab itu lalu dia terinfeksi virus corona lantas meninggal maka dia tergolong mati syahid. Masalah ini menjadi trending topic di kalangan warga masyarakat Islam Indonesia saat ini. Agar  tidak berlaku su’udzan kepada sesama muslim yang ujung-ujungnya adalah permusuhan dan perpecahan maka polemik ini perlu diangkat menjadi topik hangat yang memuat pencerahan dan klarifikasi agar  suatu golongan  tidak mengatakan gagal faham kepada golongan yang lain lalu merasa konsep mereka sendiri yang paling benar dan menduduki kebenaran mutlak yang tak bisa di bantah dan di ganggu gugat.


Mengacu pada fatwa MUI yang terkait dengan penutupan masjid untuk mengantisifasi penularan virus corona banyak sekali yang salah faham atau malah bisa di katakan keliru dalam memahami konteks maksud dari fatwa tersebut padahal MUI memfatwakan peniadaan shalat jumat hanya berlaku  pada suatu daerah yang penyebaran virusnya sudah tidak bisa ditanggulangi alias tidak terkendali lagi sedangkan bagi wilayah atau daerah yang sama sekali belum terkontaminasi oleh virus corona maka wilayah atau daerah tersebut tetap wajib melaksanakan shalat jumat dan shalat berjamaah yang lima waktu sebagaimana biasanya. Fatwa inilah yang merupakan  cikal bakal perdebatan di medsos oleh warga net di sebagian tempat di penjuru tanah air. Setiap ada  peraturan  tentu akan memiliki dampak bagi setiap orang secara umum maupun secara pribadi khususnya warga muslim Indonesia, ini di pengaruhi oleh paradigma berfikir mereka masing-masing terhadap bagaimana menilai fatwa tersebut dan juga di sisi lain dipengaruhi oleh tingkat pendidikan yang pernah ditempuh. Kalau dari kalangan berpendidikan maka  tak kita ragukan pasti ada rujukan tertentu tertentu yang mereka jadikan pijakan dasar maka jangan heran kalau sekiranya ada yang berkomentar 'kenapa mesti masjid yang merupakan tempat ibadah di tutup sementara pasar yang jauh kebih rentan dengan penularan virus Covid-19 malah tetap di buka dan di legalkan ada motif apa di balik semua ini?' Paling tidak mereka akan berfikir seperti itu dan  jauh berbeda sekali dibanding kalangan masyarakat awam yang  tentunya dengan spontan mengatakan langsung penolakan mereka ketika mereka merasa fatwa itu bertentangan dengan kebiasaan umum ( general truth) mereka tanpa perlu berfikir lama apalagi mencari dalil dan analisis lebih lanjut.


Disinilah para pemangku kebijakan yang berkecimpung di bidang pemerintahan baik dari level atas sampai bawah berperan lebih aktif di garis depan sebagai tameng yang melindungi warga masyarakatnya dari bahaya virus mematikan ini bukan malah menjadikan momen ini hanya sebagai ajang viral  dengan update status di medsos dan melakukan debat kusir yang membuang-buang waktu dan tak bermanfaat apalagi kalau sampai pada akhirnya di nilai oleh kaum-kaum terpelajar bahwa pemerintah tidak konsekwen melindungi masyarakatnya malah rela mengorbankan nyawa rakyat atau masyarakatnya demi demi kemajuan  pariwisata, ini begitu miris, tidak logis sekali dan sangat tidak kita inginkan. Pada situasi yang belum kondusif ini   masyarakat awam butuh perlindungan dan rasa tenang dan hal terpenting yang harus dikerjakan pemerintah adalah mencari solusi pencegahan entah dengan cara mengadakan secara rutin program zero waste atau mengadakan gotong royong kebersihan lingkungan bagi kawasan yang belum sama sekali tersentuh oleh penyebaran covid-19 dan yang terpenting lagi  adalah menyebarkan surat  edaran atau pemberitahuan umum  kepada warga masyarakatnya untuk tetap waspada serta mengantisipasi setiap orang asing yang datang atau para perantau yang baru pulang dari rantauan agar di cek secara medis dulu dan bisa di pastikan kondisinya sehat baru diperbolehkan untuk bisa berbaur dengan masyarakat setempat ini lebih efektif sebab sesuai dengan yang kita sepakati  "wiqoyatusshihhatu khairum minal ilaji" (menjaga kesehatan itu lebih baik daripada mengobati).


Oleh: Abu Aulia

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Khutbah Jum'at | Islam Mengangkat Harkat & Martabat Kaum Wanita

 الحمد لله الذى أعد للمؤمنين والمؤمنات جنات  تجرى من تحتها الانهار أحمده سبحان الله تعالى وأشكره على نعمه الغزار, وأشهد أن لااله الا الله وحده لاشريك له الملك العزيز الغفار, وأشهد أن سيدنا ونبينا محمدا عبده ورسوله المختار, اللهم صل وسلم وبارك على عبدك ورسولك محمد نور الانوار وسر الاسرار وعلى اله الأبرار واصحابه الاخيار ومن تبعهم باحسان الى يوم القرار. اما بعد.فيامعاشر المسلمين رحمكم الله أوصيكم ونفسى بتقوى الله وقد فاز المتقون واحثكم على طاعته لعلكم تفلحون Ma'asyiaral Muslimin Rahimakumullah Marilah kita bersama-sama meningkatkan ketaqwaan kepada Allah swt. diantara bukti ketaqwaan itu adalah meniti ridha orang tua. Terutama ibu sebagai wanita yang telah bersusah payah melahirkan dan membesarkan kita. bukankah ridha Allah swt tergantung pada ridhanya? Dengan kata lain menghormati orang tua merupakan salah satu artikulasi ketaqwaan seorang hamba kepada-Nya. Ma'asyiaral Muslimin Rahimakumullah Surga di bawah telapak kaki ibu, al-jannatu tahta aqdamil ummahati. Begitulah Rasulul...

Doa Tahlil atau Doa Arwah

Ada berbagai macam bentuk susunan do'a arwah. Namun penulis ingin menuliskan di sini cuma satu bentuk saja agar mudah di hafal dan di amalkan ketika di butuhkan pada acara tahlilan maupun pada saat tertentu di saat kita ingin mendo'akan keluarga, kerabat dan sahabat kita yang telah meninggal dunia. Doa tahlil atau doa arwah ini berisi permohonan agar Allah menerima semua bacaan Al-Qur’an dan zikir tahlil sebagai tambahan amal kebaikan bagi ruh/arwah orang yang meninggal yang didoakan. Doa ini juga terdiri atas permohonan ampunan dan rahmat-Nya untuk arwah ahli kubur. Inilah do'anya : اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنْ الرَّحِيْمِ. الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حَمْدَ الشَّاكِرِيْنَ حَمْدَ النَّاعِمِيْنَ حَمْدًا يُّوَافِى نِعَمَهُ وَيُكَافِىءُ مَزِيْدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ. سُبْحَانَكَ لَا نُحْصِى ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ، فَلَكَ ال...

Kisah Sahabat Nabi SAW | Sang Raja Di Surga

Di dalam suatu majelis pengajaran, tiba-tiba Rasulullah SAW bersabda, "Besok pagi akan ada seorang ahli surga yang bersembahyang bersama kamu!!" Abu Hurairah, yang meriwayatkan hadits ini, berkata dalam hati,"Aku berharap, akulah yang ditunjuk oleh beliau….!" Waktu subuh esok harinya, Abu Hurairah shalat di belakang beliau.  Ia tetap tinggal di tempatnya ketika beberapa orang pamit untuk pulang. Tiba-tiba ada seorang hamba/budak hitam berpakaian compang-camping datang mendekat dan menjabat tangan Rasulullah SAW, ia berkata, "Ya Nabiyallah, doakanlah aku semoga aku mati syahid!!" Rasulullah SAW memenuhi permintaan orang tersebut.  Sementara beliau berdoa, tercium bau kesturi dari tubuhnya yang kelihatan kumuh dan kotor.Setelah ora ng itu berlalu, Abu Hurairah bertanya, "Apakah  orang itu (yang Engkau maksud), Ya Rasulullah?" "Benar," Kata Nabi SAW, "Ia hamba sahaya dari Bani Fulan…" "Mengapa tidak engkau beli dan engkau me...